Senin, 09 Januari 2017
Jumat, 16 September 2016
Hasil Rekomendasi Konferensi Internasional di Chechnya (25-27 Agustus 2016)
-almochtar news-www.ponpesalmochtar.blogspot.com
Muktamar (Konferensi) bertajuk “Siapakah
Ahlussunnah wal Jama’ah? Penjelasan Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah; Akidah,
Fikih dan Akhlak serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas”
yang diselenggarakan hari Kamis (25-27/08/2016) dihadiri Grand Syaikh al-Azhar,
para mufti dan lebih dari 200 ulama seluruh dunia. Berikut 10 rekomendasi Muktamar
Ahlussunnah wal Jama’ah Chechnya:
بسم الله الرحمن
الرحيم
أهل
السنة والجماعة هم الأشاعرة والماتريدية في الاعتقاد وأهل المذاهب الأربعة في الفقه،
وأهل التصوف الصافي علمًا وأخلاقًا وتزكيةً. - للقرآن
الكريم حرم يحيطه من العلوم الخادمة له، المساعدة على استنباط معانيه، وإدراك مقاصده
وتحويل آياته إلى حياة وحضارة وآدابا وفنون وأخلاق ورحمة وراحة وإيمان وعمران وإشاعة
السلم والأمان في العالم حتى ترى الشعوب والثقافات والحضارات المختلفة عيانا أن هذا
الدين رحمة للعلمين وسعادة في الدنيا والآخرة.
هذا
المؤتمر نقطة تحول هامة وضرورية لتصويب الانحراف الحاد والخطير الذي طال مفهوم
"أهل السنة والجماعة" إثر محاولات اختطاف المتطرفين لهذا اللقب الشريف وقصره
على أنفسهم وإخراج أهله منه.
Ahlussunnah wal
Jama’ah adalah al-Asya’irah dan al-Maturidiyah dalam akidah, empat madzhab Hanafi,
Maliki, Syafi’i dan Hanbali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni –ilmu
dan akhlak— para ulama yang meniti jalannya.
Al-Quran al-Karim
adalah bangunan yang dikelilingi oleh berbagai ilmu yang membantu untuk
menggali makna-maknanya dan mengetahui tujuan-tujuannya yang mengantarkan
manusia kepada ma’rifat kepada Allah Swt., mengeluarkan ilmu-ilmu yang
terkandung di dalamnya, mengejawantahkan kandungan ayat-ayatnya ke dalam
kehidupan, peradaban, sastra, seni, akhlak, kasih sayang, kedamaian, keimanan
dan pembangunan. Serta menyebarkan perdamainan dan keamanan di seluruh dunia
sehingga bangsa-bangsa lain dapat melihat dengan jelas bahwa agama ini adalah
rahmat bagi seluruh alam, serta jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Muktamar ini
merupakan titik balik yang berkah untuk meluruskan penyimpangan akut yang
berbahaya yang mendominasi pengertian “Ahlussunnah wal Jama’ah” setelah
berbagai upaya pencatutan kalangan ektremis akan istilah ini dan membatasinya
hanya pada diri mereka serta mengafirkan umat Islam lainnya.
توصيات:
(REKOMENDASI)
أوصى
المؤتمر بإنشاء قناة تليفزيونية على مستوى روسيا الاتحادية لتوصيل صورة الإسلام الصحيحة
للمواطنين ومحاربة التطرف والإرهاب.
1.
Membuat channel
TV di
Rusia untuk menyampaikan citra Islam yang benar kepada masyarakat dan
memerangi ekstremisme dan terorisme.
زيادة
الاهتمام بقنوات التواصل الاجتماعي وتخصيص ما يلزم من الطاقات والخبرات للحضور الإيجابي
في تلك الوسائط حضورًا قويًا وفاعلًا.
2.
Perlunya
memberikan kepedulian dan perhatian kepada berbagai media sosial, dan
mengerahkan kemampuan dan keahlian yang diperlukan untuk ikut mewarnai dan
memberikan dampak yang kuat di media-media tersebut.
أن
يتم إنشاء مركز علمي بجمهورية الشيشان لرصد ودراسة الفرق المعاصرة ومفاهيمها وتشكيل
قاعدة بيانات موثقة تساعد على التفنيد والنقد العلمي للفكر المتطرف واقترح المجتمعون
أن يحمل هذا المركز اسم "تبصير".
3.
Membangun Pusat
Ilmiah yang kuat di Republik Chechnya untuk memantau dan mempelajari
aliran-aliran kontemporer dan konsep-konsepnya, dan membuat data terpercaya
untuk membantu membantah dan mengkritik secara ilmiah terhadap pemikiran
ekstrem dan berbagai wacananya. Dan para hadirin di Muktamar mengusulkan pusat
ilmiah ini bernama “Tabshir” (Pencerahan).
عودة
مدارس العلم الكبرى والرجوع إلى تدريس دوائر العلم المتكاملة التي تخرج العلماء والقادرين
على تفنيد مظاهر الانحراف الكبرى.
4.
Menyadarkan
kembali berbagai lembaga pendidikan Islam yang besar akan jati dirinya, sejarah
dan metodologi pendidikan mereka yang otentik dan klasik, dan kembali
mengajarkan lingkaran ilmu pengetahuan yang integral, yang dapat melahirkan
para ulama yang mampu membimbing umat, membantah berbagai fenomena penyimpangan
pemikiran, dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan perdamaian, serta menjaga tanah
air.
ضرورة
رفع مستوى التعاون بين المؤسسات العلمية العريقة كالأزهر الشريف والقرويين والزيتونة
وحضرموت ومراكز العلم والبحث فيما بينها ومع المؤسسات الدينية والعلمية في روسيا الاتحادية.
5.
Perlunya
meningkatkan kerjasama antara berbagai lembaga pendidikan yang bergengsi,
seperti al-Azhar asy-Syarif, al-Qarawiyyin, Zaitouna, dan Hadhramaut serta
pusat-pusat ilmu pengetahuan dan penelitian, dengan lembaga-lembaga keagamaan
dan ilmiah di Federasi Rusia.
ضرورة
فتح منصات تعليمية للتعليم عن بعد لإشاعة العلم الآمن.
6.
Pentingnya
membuka sistem belajar-mengajar jarak jauh untuk menyebarkan ilmu yang benar,
dimana sistem itu akan dapat melayani orang-orang yang ingin belajar namun
terkendala pekerjaan mereka dari mengikuti pendidikan secara formal.
توجيه
النصح للحكومات بضرورة دعم المؤسسات الدينية والمحاضن القائمة على المنهج الوسطي المعتدل
والتحذير من خطر اللعب على سياسية الموازنات وضرب الخطاب الديني ببعضه.
7.
Memberikan
saran kepada pemerintah akan pentingnya mendukung lembaga-lembaga keagamaan dan
instansi-instansi pendidikan yang
moderat, dan memperingatkan akan bahaya apa yang dilakukan beberapa pemerintah
yang bermain kebijakan dengan mengadu domba wacana keagamaan dengan wacana yang
lain. Karena itu justeru akan semakin menambah kecemasan masyarakat, dan
memecah persatuan mereka.
يوصي
المؤتمر الحكومات بتشريع قوانين تجرم نشر الكراهية والتحريض على الفتنة والاحتراب الداخلي
والتعدي على المقدسات
8.
Para peserta Muktamar
merekomendasikan kepada Pemerintah untuk membuat perundang-undangan yang
mengatur tentang sanksi atas penyebaran kebencian, saling memfitnah, dan
perselisihan antar kelompok, serta pelanggaran lain di tempat yang suci.
أوصى
المشاركون مؤسسات أهل السنة الكبرى، الأزهر ونحوه، بتقديم المنح الدراسية للراغبين
في دراسة العلوم الشرعية من مسلمي روسيا.
9.
Para peserta
merekomendasikan instansi-instansi Ahlussunnah yang besar – al-Azhar dan
semisalnya- untuk memberikan beasiswa bagi Muslim Rusia yang ingin belajar
ilmu-ilmu syariat.
كما
أوصى المشاركون بأن ينعقد هذا المؤتمر الهام بشكل دوري لخدمة هذه الأهداف الجليلة.
10. Para peserta merekomendasikan agar Muktamar penting ini
diselenggarakan secara berkala, untuk senantiasa mengkhidmah tujuan mulia ini,
dan mengikuti berbagai tantangan yang muncul dan menghadapinya.
كما
تقدم المشاركون بالشكر لفخامة الرئيس رمضان أحمد قديروف لجهوده المباركة في خدمة القرآن
الكريم والسنة المطهرة.
Para peserta Muktamar
menyampaikan rasa terimakasih yang sangat besar kepada Presiden Ramdhan Ahmad
Kadyrov atas segala upayanya dalam berkhidmah kepada al-Quran dan as-Sunnah
yang suci.
صدر
في جروزني، جمهورية الشيشان 24 ذو القعدة 1437هـ، 27 أغسطس 2016.
(Dirilis di Grozny, Chechnya, 24
Dzulqa’dah 1437 H/27 Agustus 2016 M).
Para peserta Muktamar mendoakan Presiden
Ramdhan Ahmad Kadyrov
agar senantiasa sukses untuk melanjutkan perjuangan ayahnya asy-Syahid Syaikh
Haji Ahmad Kadyrov dalam berkhidmah kepada Islam dan kemanusiaan, serta membela
akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka semua secara khusyuk menengadahkan
tangan kepada Allah, agar senantiasa memberikan rahmat dan ridhaNya kepada
asy-Syahid Syaikh Haji Ahmad Kadyrov yang merupakan kehilangan besar bagi umat
Islam, serta memberikan kemuliaan kepada beliau di surga. Dan semoga Allah
menjaga Chechnya dan selalu memberinya keselamatan, keamanan, kemajuan dan
kemakmuran.
Para peserta juga mengucapkan
rasa terimakasihnya kepada Kantor Kepresidenan untuk kerjasamanya yang baik
dengan para penyelenggara, Yayasan Sosial Daerah atas nama Pahlawan Rusia
Syaikh asy-Syahid Ahmed Kadyrov, Yayasan Sosial yang mendukung budaya Islam,
ilmu pengetahuan dan pendidikan, Yayasan Tabah, dan seluruh yang berpartisipasi
dalam mengurus dan mengatur Muktamar ini.
Semoga shalawat dan salam
senantiasa tercurah kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau
semuanya. (Sumber: Fp Alhabib Ali Al Jifri الحبيب علي الجفري dan ruwaqazhar.com)
Senin, 22 Agustus 2016
Hukum Menghormat bendera
Hukum
menghormat kepada bendera diiringi lagu kebangsaaan itu boleh. Sebab
hakikat menghormat bendera adalah salah satu bentuk sikap cinta tanah
air, terdapat sejarah bagaimana ulama' dan syuhada' kita dulu
memperjuangkan kedaulatan bangsa ini.
Syekh Athiyah Shaqar, ketua majelis Fatwa Al-Azhar Mesir menanggapi fenomena ini dengan ungkapan arifnya :
فتحية العلم بالنشيد أو الإشارة باليد في وضع معين إشعار بالولاء للوطن والالتفاف حول قيادته والحرص على حمايته، وذلك لا يدخل فى مفهوم العبادة له، فليس فيها صلاة ولا ذكر حتى يقال : إنها بدعة أو تقرب إلى غير الله
Syekh Athiyah Shaqar, ketua majelis Fatwa Al-Azhar Mesir menanggapi fenomena ini dengan ungkapan arifnya :
فتحية العلم بالنشيد أو الإشارة باليد في وضع معين إشعار بالولاء للوطن والالتفاف حول قيادته والحرص على حمايته، وذلك لا يدخل فى مفهوم العبادة له، فليس فيها صلاة ولا ذكر حتى يقال : إنها بدعة أو تقرب إلى غير الله
"Menghormati bendera dengan lagu atau isyarat tangan dalam situasi
tertentu itu menunjukkan kesetiaan pada tanah air, berkumpul di bawah
kepemimpinannya, dan komitmen untuk mendukungnya. Sikap itu tidak masuk
dalam pengertian ibadah/menyembah kepada bendera itu. Penghormatan
bendera bukanlah shalat atau dzikir sampai ada yang bilang itu bid'ah
atau ibadah pada selain Allah".
Kemudian senada dengan beliau, syekh Abudurrahman Syaiban berkata:
أن القول بعدم جواز الاستماع إلى النشيد الوطني أو الوقوف له أمر غير مؤسس دينيا، وليس هناك أي نص يحرمه أو يكرهه، بل على عكس ذلك، هو أمر محبب، لأن ديننا الحنيف أكد أن ”حب الوطن من الإيمان” والعلم والنشيد والراية وونياشين هي علامات رمزية واصطلاحات حياتية لا علاقة لها بالشرع
" Pendapat tidak bolehnya mendengarkan lagu kebangsaan atau berdiri saat dinyanyikan tidak memiliki dasar syariah. Tidak ada dalil apapun yang mengharamkan atau memakruhkannya. Justru sebaliknya: itu perkara yang dianjurkan. Karena, agama Islam menyatakan bahwa “Cinta tanah air itu bagian dari iman.” Sedangkan lagu dan bendera itu adalah tanda dan simbol kehidupan yang tidak ada kaitannya dengan syariah"
Kemudian senada dengan beliau, syekh Abudurrahman Syaiban berkata:
أن القول بعدم جواز الاستماع إلى النشيد الوطني أو الوقوف له أمر غير مؤسس دينيا، وليس هناك أي نص يحرمه أو يكرهه، بل على عكس ذلك، هو أمر محبب، لأن ديننا الحنيف أكد أن ”حب الوطن من الإيمان” والعلم والنشيد والراية وونياشين هي علامات رمزية واصطلاحات حياتية لا علاقة لها بالشرع
" Pendapat tidak bolehnya mendengarkan lagu kebangsaan atau berdiri saat dinyanyikan tidak memiliki dasar syariah. Tidak ada dalil apapun yang mengharamkan atau memakruhkannya. Justru sebaliknya: itu perkara yang dianjurkan. Karena, agama Islam menyatakan bahwa “Cinta tanah air itu bagian dari iman.” Sedangkan lagu dan bendera itu adalah tanda dan simbol kehidupan yang tidak ada kaitannya dengan syariah"
Sumber :facebook Lbmnu PC Situbondo
Ahlusunnah Dan Kebenaran Ajarannya
Ahlusunnah Dan Kebenaran Ajarannya
Ajaran Islam bukanlah sebuah ajaran yang dipahami sebagian kecil kelompok
yang secara lantang mengatakan “Kita kembali ke Quran dan Hadis”, atau “Kita
salat seperti Rasulullah, bukan menurut Imam Syafi’i” dan slogan-slogan
lainnya.
Islam yang telah lama sampai kepada kita adalah ajaran yang telah dibawa
oleh ulama-ulama terkemuka dalam Islam melalui jalur ilmu, guru dan murid,
terus hingga saat ini hingga dapat menjaga kemurnian ajarannya, seperti sabda
Nabi Muhammad Saw:
عَنْ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
الْعَذَرِي قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَرِثُ
هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ
الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ (رواه
البيهقي)
“Dari Ibrahim bin Abdurrahman
al-Adzari, ia berkata: “Rasulullah Saw bersabda: Ilmu Islam ini akan diwarisi oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi Islam, mereka akan membersihkan dari penyimpangan makna oleh para ekstrimis, pengagamaan
sesuatu yang bukan agama oleh orang-orang yang membatalkan ajaran Islam
(seperti para orientalis), dan penyimpangan harfiyah atau maknawiyah oleh
orang-orang bodoh” (HR al-Baihaqi. Para ulama ahli hadis menilainya sahih)
Karena pentingnya jalur ulama yang membawa ajaran Islam, para ulama Salaf menegaskan:
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ
فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ (رواه مسلم)
Muhammad bin Sirin berkata: “Ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah oleh
kalian dari siapa kalian mengambil agama kalian” (Riwayat Muslim)
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ الإِسْنَادُ مِنَ
الدِّينِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ (رواه مسلم)
Abdullah bin Mubarak berkata: “Sanad adalah bagian dari agama. Andai tidak
ada sanad, maka orang akan berkata sesuai kehendaknya” (Riwayat Muslim)
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ
الْقَوَائِمُ. يَعْنِى الإِسْنَادَ (رواه مسلم)
Abdullah (bin Mubarak) juga berkata: “Yang membedakan antara kita dan
mereka adalah sanad” (Riwayat Muslim)
Berikut adalah salah satu sanad ilmu Islam bagi ulama Ahlisunnah wal Jamaah
yang terus bersambung kepada ulama Salaf hingga Rasulullah Saw:
Syaikhona Kholil Bangkalan Madura
dari
Syaikh Abu Bakar bin
Al Arif Billah As Sayid Muhammad Syatho dari Syaikh Muhammad Nawawi Al Bantani
dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan dari Syaikh Abdulloh bin
Umar dari Syaikh Muhammad
Solih Rois dari Syaikh Ali Al Wana'i dari Syaikh
Sulaeman bin Muhammad bin Umar Al Bujaerimi Al
Mishriy dari Syaikh Ahmad bin Romadlon dari Syaikh
Sulaeman Al Babili dari Syaikh Abdul Aziz
Zamzami dari Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al
Mulaibari dari Wajihuddin Abdurrohman bin
Ziyad Az Zubaedi dari Syihabuddin bin
Ahmad bin Hajar Al Haitamiy (Syaikh Ibn Hajar)
dari Abu Yahya Zakarya bin Muhammad bin
Ahmad bin Zakarya Al Anshori (Syaikhul Islam
Zakarya Al Anshori) dari Imam Jalaluddin
Muhammad bin Ahmad Al Mahalliy dari Syaikh Solih bin
Umar bin Ruslan bin Nasir bin Solih Al Bulqini
dari Syaikh Umar Al Bulqini dari Syaikh Abdurrohim
Al Quroisyiy dari Syaikh Hibatulloh Al
Baar dari Syaikhul Islam Muhyiddin bin Zakarya bin
Syarifuddin dari Imam Kamal Ardabili dari Syaikh
Muhammad Naisaburi dari Abu Hamid bin
Muhammad Al Ghozali Aththusiy (imam Ghozali) dari
Abdul Malik ibn Yusuf bin Muhammad Al
Juwaeni (imam Haromain) dari Abu Abdillah
Muhammad Al Juwaeni dari Imam Abu Bakar Qofal
dari Imam Ibrohim Al Maruzi dari Imam Ahmad ibn
Umar bin Surej Abu Al Abas Al Baghdadi dari
Imam Abu Al Qosim dari Imam Abu Ibrohim Ismail
bin Yahya Al Mazani dari AsySyaikh Al Imam Al A’zhom
Ibn Abdillah bin Idris Asysyafi’i (imam
Syafi’i pendiri madzhab syafi'i ) dari Al Imam
Malik bin Anas dari Sayiduna Syafi’ Maula Abdillah
dari Sayiduna Abdulloh bin Umar dari Rosululloh
Shollahu 'Alaihi Wasallam.[2]
Amaliah Ahlisunnah Berdasarkan Ijtihad
Bukan Bid’ah
Amaliah yang telah diamalkan oleh umat Islam Ahlisunnah wal Jamaah, baik secara ubudiyah, fadlail, tradisi yang tidak bertentangan dengan Islam dan sebagainya adalah bersumber dari Ijtihad, baik dari al-Quran, Hadis, Ijma’ Ulama maupun Qiyas. Keempat sumber hukum ini berlandaskan firman Allah:
قوله : { أَطِيعُواْ الله
وَأَطِيعُواْ الرسول } يدل على وجوب متابعة الكتاب والسنة . قوله : { وَأُوْلِى
الأمر مِنْكُمْ } يدل عندنا على أن إجماع الأمة حجة ... { فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى
شَىْء فَرُدُّوهُ إِلَى الله والرسول } يدل عندنا على أن القياس حجة (تفسير الرازي
- ج 5 / ص 248)
“Firman Allah yang artinya: (Patuhilah Allah dan Patuhilah Rasulullah)
adalah kewajiban mengikuti al-Quran dan Sunah. Firman Allah yang artinya: (Dan
Ulil Amri) menunjukkan bahwa Ijma’ ulama adalah sebuah hujjah. Dan firman Allah
yang artinya: (Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya) menunjukkan
bagi kita bahwa Qiyas adalah sebuah hujjah” (Tafsir al-Razi Mafatih al-Ghaib
5/248)
Dengan demikian, banyaknya amaliah Ahlisunnah yang melalui metode Qiyas,
seperti mengucapkan niat, kirim pahala al-Quran dan sebagainya adalah
menggunakan Qiyas yang dibenarkan dalam Islam, dan bukan bid’ah seperti yang
dituduhkan sebagian kecil kelompok.
Sedangkan yang berkaitan dengan tradisi-tradisi yang baik adalah
berlandaskan atsar berikut:
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ : مَا رَأَى
الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ
سَيّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّىءٌ وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيْعًا أَنْ
يَسْتَخْلِفُوْا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (رواه احمد والحاكم والطبراني
والبزار . قال الذهبي قي التلخيص : صحيح وقال الهيثمي رجاله ثقات)
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Apa yang dilihat baik
oleh umat Islam, maka baik pula bagi Allah. Dan apa yang dilihat buruk oleh
umat Islam, maka buruk pula bagi Allah. Para sahabat kesemuanya telah
berpandangan untuk mengangkat khalifah Abu Bakar” (Riwayat Ahmad, al-Hakim,
al-Thabrani dan al-Bazzar. Al-Dzahabi berkata: Sahih. Al-Haitsami berkata: Para
perawinya terpercata)
Ahlisunnah Wal Jamaah Diantara Aliran Lain
Tidak dapat dipungkiri bahwa umat Islam saat ini yang terbesar dianut di
dunia adalah Ahlisunnah wal Jamaah, yang secara akidah bermadzhab kepada Imam
Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, juga di bidang fikih
bermadzhab kepada salah satu dari 4 madzhab, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam
Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal. Ini adalah kelompok terbesar (al-Sawad
al-A’dzam) dalam Islam sejak masa ulama Salaf ribuan tahun yang lalu. Karena
Ahlisunnah adalah kelompok mayoritas dalam Islam, maka ada jaminan dari
Rasulullah bahwa mereka tidak akan sesat secara massal:
مَا كَانَ اللهُ لِيَجْمَعَ هَذِهِ الْأُمَّةَ
عَلَى ضَلَالَةٍ أَبَدًا، وَيَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ هَكَذَا، فَعَلَيْكُمْ
بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ، فَإِنَّهُ مَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ
“Allah tidak akan mengumpulkan umat ini di atas
kesesatan selamanya. Kuasa Allah berada dalam jamaah seperti ini. Maka ikutilah
al-Sawad al-A’dzam oleh kalian. Barangsiapa yang menyendiri (dari jamaah) maka
menyendirilah dalam neraka”
Berkenaan dengan hadis ini ulama Wahabi, Syaikh
Albani berkata:
قال الشيخ في مقدمة الصحيحة : ] رواه ابن أبي عاصم في السنَّة وإسناده ضعيف
كما بينته في ظلال الجنة رقم 80، ولكنه حسن بمجموع طرقه كما شرحته في الصحيحة 1331
وغيره[. انظر: هداية الرواة ]171[. (تراجعات العلامة الألباني في التصحيح والتضعيف – ج 1 / ص 13)
“Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ashim dalam kitab
al-Sunnah. Sanadnya dlaif sebagaimana saya jelaskan dalam Dzilal al-Jannah.
Tetap hadis ini HASAN dengan akumulasi jalur-jalur riwayatnya, sebagaimana saya
jelaskan dalam [al-Silsilah] al-Shahihah dan lainnya” (Taraju’at Al-Albani
1/13)
Penjelasan dalam banyak hadis tentang [Ma Ana alaihi wa Ashabi] juga ditemukan riwayat yang mempertegas makna al-Sawad al-A’dzam sebagai Ahlisunnah wal Jamaah:
إِنَّ بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ
عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَزِيْدُ عَلَيْهِمْ
فِرْقَةً كُلُّهَا فِى النَّارِ إِلاَّ السَّوَادَ الْأَعْظَمَ (أخرجه الطبرانى فى
الكبير وفى الأوسط وقال الهيثمي : فيه أبو غالب وثقه ابن معين وغيره وبقية رجال
الأوسط ثقات وكذلك أحد إسنادى الكبير عن أبى أمامة)
“Sesungguhnya Bani Israil terpercah menjadi 71
golongan. Dan umat ini akan melebihi Bani Israil secara kelompoknya. Semua di
neraka, kecuali kelompok terbesar” (HR al-Thabrani dari Abu Umamah. Al-Hafidz
al-Haitsami berkata: Di dalam sanadnya terdapat Abu Ghalib, ia dinilai tsiqah
oleh Ibnu Ma’in dan lainnya, dan perawi yang lain adalah terpercaya. Begitu
pula salah satu dua sanad dalam al-Mu’jam al-Kabir)
Sumber: http://www.hujjahnu.com/2016/03/ahlisunnahdan-kebenaran-ajarannya-m.html
Langganan:
Postingan (Atom)

